Ketika Dapur Keluarga Menjadi Sekolah Kehidupan
Chef Roy Lesmana, International Chef Judge-Makansedap.id-Chef Roy Lesmana
OPINI
Perjalanan hidup saya sebenarnya tidak pernah jauh dari dunia dapur. Sejak kecil, saya sudah melihat bagaimana nenek dan keluarga besar mengelola usaha makanan secara sederhana namun penuh dedikasi. Pada masa penjajahan dulu, keluarga Papa memiliki pabrik beras dan perkebunan yang cukup luas. Nenek saya, sebagai juru masak keluarga, memasak bukan hanya untuk keluarga inti, tetapi juga untuk para pekerja yang jumlahnya tidak sedikit.
Bayangkan dapur yang panjangnya dua kali lipat dari dapur rumah biasa, buka dari pukul 05.00 WIB hingga pukul 18.00 WIB. Semuanya serba manual, tanpa blender, tanpa mixer, semua ditumbuk, diulek, dan dimasak dengan tangan. Dari kecil, sejak SD sampai SMP, saya ikut mengamati ritme itu. Dari bau bumbu yang digiling hingga hiruk-pikuk persiapan makanan dalam jumlah besar, saya belajar bahwa memasak bukan sekadar kegiatan, tapi disiplin.
Sejak kecil juga, saya sudah harus memutar otak. Saya ingat saat Indomie masih dua ratus perak, saya sudah berpikir bagaimana menjualnya kembali untuk mendapat untung. Dari situ saya paham. Saya bukan hanya senang menciptakan makanan, tapi juga punya naluri bisnis. Barang harus ditaruh di tempat bersih, kualitas tidak boleh rusak. Hal-hal kecil ternyata membentuk cara berpikir saya hingga hari ini.
Kini, selain menjadi chef, saya juga bekerja sebagai, judge, business consultant, coach, dan pengajar, bahkan sampai ke Singapura. Banyak orang mengeluh soal keadaan ekonomi, dan memang benar, setiap orang pasti terdampak. Tapi menurut saya, kita diberi hikmat untuk berkreasi dan tidak hanya menyalahkan keadaan. Perubahan selalu lebih efektif bila dimulai dari diri sendiri.
Saya pribadi bukan tipe yang idealis kaku, yang harus begini, harus begitu. Bagi saya, fleksibilitas itu penting. Dengan skill yang saya punya sebagai chef, saya bisa membuka lapangan kerja, menolong orang lewat suplai makanan, bahkan menciptakan produk yang punya nilai jelas.
Soal harga, semua kembali pada kualitas. Mau harga lima ribu ada, mau dua puluh ribu juga ada, tapi tentu ada perbedaan standar bahan dan prosesnya. Orang yang ingin makan enak tentu harus memahami bahwa kualitas punya harga.
Mengapa saya memilih profesi menjadi chef? Karena dari awal, saya memang jatuh cinta pada dunia memasak. Saya senang memasak, senang memberi makanan untuk orang lain. Bahkan di masa-masa sulit, misalnya saat pandemi Covid 19 atau saat ekonomi lesu, saya tetap membagi-bagikan makanan. Bagi saya, memasak bukan hanya profesi. Ini adalah cara memberi, berbagi, passion, dan bertahan.
Pada akhirnya, dapur adalah sekolah kehidupan saya. Dari sana saya belajar kreativitas, ketekunan, bisnis, dan kepedulian. Dari sana pula saya belajar bahwa makanan bukan hanya soal rasa, tetapi tentang makna.
Chef Roy Lesmana, International Chef Judge