Tentang Sikap, Pengalaman Kerja, dan Realitas di Lapangan
Chef Roy Lesmana, International Chef Judge-Makansedap.id-Chef Roy Lesmana
OPINI
Saya sering merasa bahwa banyak hal di dunia kerja, baik di dapur, kantor, maupun perusahaan besar, sebenarnya kembali pada satu hal, sikap dan cara kita menghadapi keadaan. Orang bisa saja memasak dalam suasana hati berbeda, dan hasilnya tentu ikut terpengaruh. Sama seperti itu, suasana di tempat kerja juga memberikan warna pada cara kita bekerja dan memperlakukan orang lain.
Saya pernah diundang masuk-keluar restoran di Eropa. Bosnya bahkan tidak menagih bayaran, karena mereka memang ingin saya datang dan mencoba makanan mereka.
Saya sendiri bukan tipe orang yang banyak meminta. Buat saya, penghargaan muncul bukan dari banyaknya permintaan, tapi dari cara kita bersikap. Dan mereka pun akhirnya menghargai itu.
Di sisi lain, saya juga sering melihat bagaimana orang kita kadang terlalu sungkan atau justru kebalikannya, terlalu banyak permintaan. Padahal ketika kita datang sebagai tamu atau teman, seharusnya suasananya lebih sederhana, mau makan apa, apa adanya saja. Tidak perlu drama.
Dalam pertemuan atau kumpul-kumpul, saya juga sering berpikir bahwa bukan perhitungannya yang penting, tapi niatnya. Ada orang yang bahkan menganggap ‘gila’, tapi kita tetap memberi. Karena kebaikan itu memang tidak perlu dipikir rumit. Namun zaman sekarang sudah berbeda. Banyak hal lebih fleksibel, lebih longgar, dan orang mulai belajar untuk tidak terlalu kaku.
Bos-bos saya di luar negeri sering bercerita bahwa saat mereka bekerja di Indonesia dulu, stresnya luar biasa sampai kena hipertensi. Tapi ketika sistem sudah berjalan, ternyata banyak yang bisa dibuat lebih sederhana. Hanya saja kenyataannya, di beberapa perusahaan, stres itu tetap muncul karena target tidak jelas, aturan berubah terus, dan kesalahan dilempar ke bawah. Supervisor menyalahkan staf, direktur menyalahkan manajer, dan seterusnya.
Padahal, kalau di luar negeri, ketika manajer salah, ya dia yang bertanggung jawab. Direktur pun tahu fungsi sebenarnya, to direct, bukan hanya memberikan tekanan. Tapi di sini, jabatan kadang hanya soal nama, bukan fungsi.
Saya sendiri pernah mengalami tekanan yang sama. Pulang kerja tetap stres, tapi ya mau bagaimana? Kita bekerja untuk mencari uang. Hanya saja saya lebih cocok sebagai orang lapangan, operasional. Kalau soal konsep dan perencanaan strategis, saya biarkan manajer yang urus. Kita harus sadar porsi masing-masing, tidak semua harus diambil. Banyak orang masuk kerja baru sebentar sudah mengaku bisa semuanya. Padahal spesialisasi itu penting. Jangan sampai satu kerjaan berantakan, yang lain juga ikut jatuh.
Tentang rahasia usaha atau brand, tentu ada batasnya. Ada yang bisa dibagi, ada yang tidak. Apalagi dunia bisnis berubah cepat, regulasi berubah, margin ditekan, harga pokok penjualan harus disesuaikan. Semua perlu strategi.
Dan satu hal yang saya pelajari, dunia ini penuh orang yang bisa saja berniat buruk atau memanfaatkan kita. Tapi kalau kita lurus, tetap bekerja dengan baik, rezeki akan mengikuti. Banyak orang mungkin mengecilkan kita, tapi hidup ini bukan soal gengsi. Saya pernah tidak dibayar, pernah dipandang rendah, tapi saya jalani saja. Toh waktu saya juga berharga. Saya tidak perlu malu menceritakan apa adanya.
Yang penting kita jujur, tidak memanfaatkan nama orang, dan tidak menyelipkan alasan seperti ‘buat sumbangan’ atau sebagainya. Saya sudah punya caranya sendiri untuk berbagi, tanpa perlu diumumkan. Prinsip saya sederhana, kalau punya berkat, salurkan dengan tulus.
Akhirnya, semua pengalaman ini mengajarkan saya bahwa dunia kerja, pertemanan, bisnis semuanya kembali pada sikap. Tidak perlu drama, tidak perlu berlebihan. Jalani, selesaikan. Apabila masih bisa membantu teman, harus dilakukan tanpa pamrih. Sederhana seperti itu saja.
Chef Roy Lesmana, International Chef Judge