Kisah Sop Sapi, Sambal Teri Ala Medan, dan Limoncello di Via Campania

Kisah Sop Sapi, Sambal Teri Ala Medan, dan Limoncello di Via Campania

Dubes RI untuk Italia, Junimart Girsang foto bersama rombongan PWKI di depan lukisan berusia 600 tahun yang berkisah tentang manusia di bawah pandangan Sang Pemelihara Kehidupan.-Makansedap.id-PWKI

Nama lengkap berikut gelarnya adalah Prof, Dr. Junimart Girsang S.H., M.B.A., M.H., M.IP. Pria kelahiran Medan ini mengundang rombongan PWKI untuk singgah di kediamannya di Roma. Gelarnya semakin panjang ketika pada 22 Maret 2025, dirinya diangkat oleh Presiden Prabowo Subianto sebagai dubes. 

BACA JUGA:Harmoni Chesa Canggu, Destinasi Momen Berharga di Pantai Batu Bolong  

Gelarnya sangat panjang. Dia adalah Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh (LBBP) Italia merangkap Republik Malta, Republik San Marino, Republik Siprus, Food and Agriculture Organization (FAO), International Fund and Agriculture Development (IFAD), World Food Programme (WFP), dan International Institute for the Unification of Private Law (UNIDROIT), oleh Presiden Prabowo Subianto pada 24 Maret 2025. Dubes Junimart menempati posnya di Roma, sejak 17 Juni 2025.

Kunjungan rombongan PWKI dipimpin oleh CF Mayong Suryo Laksono selaku Ketua Delegasi. Ia didampingi Penasihat sekaligus Pendiri PWKI AM Putut Prabantoro. Hadir dalam jamuan tersebut anggota Komisi I DPR RI dari Fraksi Golkar Nurul Arifin. Dalam jamuan itu, Dubes Junimart didampingi antara lain oleh Penasihat bidang Politik Anang Fauzi Firdaus, dan Penasihat bidang Protokol/Konsuler Silvia Juliana.

Cinta yang Menyatukan 

Di tengah-tengah pembicaraan, Putut Prabantoro menyela. Dia menceritakan bahwa tanpa banyak yang tahu, Junimart Girsang sangat memberi perhatian kepada para biarawan-biarawati atau para imam. Dubes RI Untuk Italia ini tidak hanya memberi perhatian tetapi juga tidak pernah menolak para suster atau imam yang datang untuk meminta bantuan darinya.

“Lha kok tahu? Dari mana cerita itu?“ tanya Junimart Girsang. Putut Prabantoro tidak menjawab. Pengajar di bidang ideologi ini menanggapi dengan senyum, “A-1”.

BACA JUGA:Sambut Libur Natal, Living World Denpasar Buka Wisata Kuliner Nusantara  

Lalu, cerita Putut berlanjut.  “Apa yang Pak Junimart lakukan itu tanpa pamrih. Ia melakukan dengan tulus hati bahkan dengan cinta. Ia melakukan itu semua karena cintanya kepada sang Ibu,” ujar Putut selanjutnya.  

Junimart Girsang lahir pada 3 Juni 1963. Ia putera dari Rosdiana T br Munthe (ibu) dan RKJ Girsang (Ayah). Sang ibu beragama Katolik. Cinta kepada ibunyalah yang menggerakan semuanya. Bagi Junimart, kasih itu menyatukan. 

“Seorang pria bersatu dengan wanita dan membentuk keluarga itu kan karena kasih. Termasuk sekarang kita disatukan di atas meja makan ini juga karena kasih,“ ujar Junimart 

Sangat memegang teguh keyakinan bahwa Kasih Itu Menyatukan, Dubes Junimart menegaskan dirinya tidak membeda-bedakan agama manapun. Ia menggarisbawahi.

BACA JUGA:Chef Roy Lesmana, Tokoh Kuliner Global dengan Deretan Prestasi Internasional

“Kristen Protestan dan Katolik itu satu,” tandas Junimart, yang di Sumatra Utara terkenal dengan aksi sosialnya membantu para Misionaris Katolik.  

Karena cinta itulah, Junimart banyak memasang salib dengan corpus di sejumlah dinding di KBRI Roma. Namun karena cinta itu juga, ia memasang  di salah satu dinding, ayat-ayat Quran di sebelah kiri bersanding dengan salib di sebelah kanan  yang dipisahkan oleh pintu.