BACA JUGA:Begini Makna Tersembunyi Root Beer dalam Perspektif Spiritual Cahaya Adiwibowo
Tujuan belajar, menjadi wanita memberikan pelajaran tentang aspek-aspek tertentu seperti penciptaan kehidupan, empati, atau kekuatan dalam kelembutan. Sementara, menjadi laki-laki memberikan pelajaran lain seperti perlindungan, ketegasan, atau kekuatan fisik.
2. Sudut Pandang Sains (Hukum Termodinamika)
Secara sains, manusia memang tersusun dari energi. Hukum Kekekalan Energi menyatakan, eEnergi tidak dapat diciptakan atau dimusnahkan. Dia hanya dapat berubah dari satu bentuk ke bentuk lainnya.
Jika menerapkan hukum ini secara puitis pada kesadaran, atom-atom yang menyusun tubuh manusia saat ini mungkin dulunya adalah bagian dari bintang, tumbuhan, atau manusia lain (baik laki-laki maupun perempuan) ribuan tahun lalu.
Secara biologis, energi yang digunakan manusia untuk bergerak berasal dari makanan yang berasal dari matahari. Dalam siklus ini, energi bersifat netral dan tidak memiliki jenis kelamin.
BACA JUGA:Mengungkap Makna Spiritual Ayam Goreng dalam Perspektif Simbolik
3. Perspektif Psikologi Jungian
Psikolog Carl Jung memperkenalkan konsep Anima atau sisi feminin dalam pria dan Animus, sisi maskulin dalam wanita. Ini menunjukkan secara psikis, semua manusia memiliki ‘jejak’ dari kedua jenis kelamin tersebut.
Perjalanan jiwa dalam konteks ini adalah upaya untuk menyeimbangkan kedua energi ini di dalam diri manusia yang sekarang, terlepas dari apa jenis kelamin fisik kita.
“Jika Anda meyakini bahwa inti dari diri Anda adalah energi atau kesadaran, sangat masuk akal jika identitas Anda tidak terbatas pada satu jenis kelamin saja. Jenis kelamin adalah atribut fisik, sedangkan energi adalah esensi yang melampauinya,” ujar Cahaya Adiwibowo.