Tentang Cara Kita Melihat Diri, Bertahan, dan Terus Berkembang

Minggu 07-12-2025,19:06 WIB
Oleh: Chef Roy Lesmana

OPINI

Saya sering melihat bahwa banyak orang membatasi dirinya sendiri. Ada anggapan bahwa jika kita berasal dari keluarga sederhana, maka cita-cita tidak boleh terlalu tinggi. Seolah-olah keadaan ekonomi otomatis menentukan masa depan. Padahal, justru pola pikir seperti itulah yang membuat kita berhenti berkembang.

Sejak kecil, saya sudah terbiasa hidup agak berbeda. Bukan karena ingin menyendiri atau merasa lebih baik, tetapi karena saya punya target hidup. Saya tahu apa yang saya mau capai, dan saya memilih fokus ke sana. Bahkan ketika keluarga besar mengira saya sombong hanya karena jarang berkumpul, sebenarnya saya hanya sedang menjaga diri agar tetap berada di jalur yang saya tentukan sendiri. Saya percaya bahwa hidup saya adalah tanggung jawab saya, bukan orang lain.

Latar belakang keluarga saya sederhana. Orang tua berdagang, hidupnya praktis dan apa adanya. Namun dari situ saya belajar bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti bermimpi. Bahkan ketika ayah saya sakit parah sampai harus dirawat bertahun-tahun, saya melihat langsung bagaimana sebuah keluarga bisa tetap bertahan hanya karena punya tekad. Saya membaca biografi banyak orang sukses, dan rata-rata bukan berasal dari keluarga kaya. Dari situlah saya percaya bahwa pendidikan formal bukan satu-satunya yang menentukan. Yang paling penting adalah logika berjalan, mau belajar, dan mau menyesuaikan diri.

Cara saya belajar sejak kecil pun berbeda. Saya membaca bukan untuk menghafal, tetapi untuk memahami. Anak-anak sering sibuk menghafal rumus, padahal yang lebih penting adalah mengerti kenapa sebuah rumus bekerja. Ketika kita memahami konsep, kita bisa menerapkannya dalam banyak hal. Bahkan, dalam hal sederhana seperti memasak. Masak bagi saya adalah latihan imajinasi. Bagaimana menggabungkan bahan biasa menjadi sesuatu yang terasa premium? Tidak harus mahal untuk bisa berkualitas, yang penting adalah kreativitas.

Pelajaran itu terbawa dalam perjalanan hidup saya sampai akhirnya masuk dunia kuliner. Dari dulu, keluarga besar, terutama dari pihak nenek, memang akrab dengan dunia masak-memasak. Dapur rumah seperti dapur pabrik, buka pagi buta, tutup menjelang malam, semuanya manual tanpa blender atau alat modern. Saya tumbuh di lingkungan yang mengajarkan bahwa kerja keras dan proses itu penting.

Sejak sekolah saya sudah mencoba berbisnis kecil-kecilan. Otak saya terbiasa memikirkan bagaimana mengubah modal sedikit menjadi sesuatu yang bernilai. Dari situ saya belajar tentang kebersihan, kualitas, dan cara memposisikan produk. Prinsip yang sama saya bawa ketika akhirnya menjadi chef, konsultan bisnis, pengajar, hingga pembuat konten. Semua bidang itu berangkat dari satu hal, yaitu akal sehat dan kreativitas.

Banyak orang menyalahkan keadaan ekonomi atau pemerintah, padahal menurut saya perubahan yang paling penting justru dimulai dari diri sendiri. Dengan keterampilan, fleksibilitas, dan kemauan untuk beradaptasi, peluang selalu bisa diciptakan. Saya bukan orang idealis yang kaku, tapi saya percaya bahwa kita harus terus meng-upgrade diri, karena dunia tidak menunggu.

Di sisi lain, saya juga percaya bahwa hidup tidak semata-mata tentang mencari uang. Ketika pandemi terjadi, saya sering membagikan makanan ke orang-orang yang kesulitan. Bukan karena kaya, dan bukan pula berharap balasan, tetapi karena saya merasa itulah momen kita bisa saling menguatkan. Bahkan ketika saldo di rekening tidak seberapa, hati selalu terasa cukup ketika kita berbagi.

Perjalanan mencari tempat tinggal pun mengajarkan saya hal lain, bahwa lingkungan sangat memengaruhi hidup. Saya tidak ingin tinggal di tempat yang penuh aturan dan membuat stres. Ketika akhirnya menemukan perumahan dengan pemilik dan tetangga yang hangat, rasanya seperti menemukan keluarga baru. Dari dapur, dari obrolan sederhana sambil ngopi, justru muncul banyak inspirasi dan ketenangan.

Kini, lewat kelas-kelas memasak, konten, dan usaha kuliner yang saya jalankan, saya merasa hidup saya punya arah yang jelas, berkarya sambil membuka peluang bagi orang lain. Bukan soal mencari keuntungan besar, tetapi bagaimana sedikit demi sedikit kita bisa memberikan manfaat bagi banyak orang. Makanan yang dibuat untuk kelas biasanya berlimpah, dan itu menjadi kesempatan untuk berbagi lagi.

Pada akhirnya, saya percaya bahwa hidup adalah kombinasi dari kerja keras, kreativitas, keberanian untuk mengambil langkah sendiri, dan hati yang mau berbagi. Kita tidak perlu berasal dari keluarga kaya atau mengenyam sekolah mewah untuk bisa berhasil. Selama kita mau berkembang dan menggunakan hikmat yang diberikan Tuhan, kita selalu punya jalan.

Chef Roy Lesmana, International Chef Judge

 

Kategori :

Terpopuler